Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf Lahir Bathin
Scroll untuk baca artikel
Bhujuk

Rumah Kayu Dua Abad Milik Nyai Talaga Ganding Sumenep, Saudara Kandung Penguasa Madura Timur

Avatar photo
746
×

Rumah Kayu Dua Abad Milik Nyai Talaga Ganding Sumenep, Saudara Kandung Penguasa Madura Timur

Sebarkan artikel ini

Dhalemtemor.com- Sebuah rumah kuna yang konon usianya sudah lebih dari dua abad namun tetap berdiri kokoh dengan arsitektur khas berlokasi di Desa Telaga Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, rumah kuna yang dibangun lebih dari dua abad silam itu, oleh sebagian pengamat sejarah keraton diperkirakan seusia dengan bangunan Masjid Jami’ Keraton Sumenep.

Disadur dhalemtemor.com dari hasil penelusuran Media Center pada tahun 2020 silam, rumah kuna di Desa Telaga Kecamatan Ganding tersebut memang memiliki kaitan erat dengan keluarga besar Keraton Sumenep, tepatnya pada masa dinasti terakhir (1750-1929).

Sumber itu menyebutkan, pemilik awal rumah kuna ini adalah adik kandung Bindara Saot alias Kanjeng Raden Tumenggung Tirtonegoro, penguasa Madura Timur pada tahun 1750-17622, yaitu Nyai Hamilah.

Dinukil dari naskah silsilah Keraton Sumenep dikisahkan, dulunya Nyai Hamilah dikenal dengan sebutan Nyai Talaga.

“Beliau adalah saudara seayah seibu dengan Bindara Saot, selain Nyai Kadungdung di Pamekasan,” kata RB. Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Kabupaten Sumenep, yang dimintai keterangan Newsroom Media Center Pemkab Sumenep pada Senin 22 Juni 2020.

RB. Ja’far Shadiq membeberkan dalam sumber itu, bahwa Bindara Saot merupakan putra Kiai Abdullah alias Entol Bungso, Batuampar. Kini Desa Batuampar masuk wilayah Kecamatan Guluk-guluk Kabupaten Sumenep.

Adapun Bindara Saot, Nyai Talaga, dan Nyai Kadungdung lahir dari ibu yang sama bernama Nyai Narema (dalam catatan lain Nurima), putri Kiai Khatib Bangil di Prongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk.

Sedangkan Putra Kiai Abdullah lainnya lahir dari isteri kedua, yaitu Nyai Kursi, diantaranya Bindara Ibrahim (Kiai Saba, Batuampar), Nyai Tanjung di Desa Batuampar, Kiai Asiruddin di Bandungan, Nyai Tengnga, dan Bindara Hasan.

Lantas Siapa Sebenarnya Nyai Hamilah?
Dalam sebuah catatan silsilah yang dikantongi K. Irfan AW, salah satu pemerhati silsilah di Kabupaten Sumenep menyebutkan, bahwa Nyai Talaga alias Nyai Hamilah, dulunya menikah dengan Kiai Shaleh dari Desa Lembung, Kecamatan Lenteng. Kiai Shaleh dikenal sebagai putra dari Kiai Bungso yang tinggal di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.

“Menurut sebuah riwayat, Nyai Talaga awalnya tinggal di “bawah” (sebutan untuk dataran rendah; red),” demikian K. Irfan AW, pemerhati silsilah dalam keterangannya di Sumenep.

Meski Nyai disebut-sebut sebagai Nyai Talaga dan tinggal didataran rendah, namun saat ini posisi rumah kuna itu justru terlihat berada di ketinggian diatas bukit.

Saat ini kediaman Nyai Talaga masuk wilayah kampung Talaga Timur, Desa Talaga, Kecamatan Ganding ditempati keturunannya, yakni keluarga almarhum K. Syukri.

“Menurut riwayat sudah tujuh turun yang menempati rumah (kuna) ini,” kata K. Junaidi, salah satu putra Kiai Syukri [diwawancarai pada 22-06-2020]

Kiai Junaidi menjelaskan, bahwa rumah yang bangunannya didominasi bahankayu itu memiliki kisah tersendiri.
“Menurut kisah sesepuh, kayu-kayu di rumah ini merupakan bagian dari ranca’ (dahan) pohon jati yang dijadikan salah satu material bangunan Masjid Jami’ Keraton,” kata Junaidi.

Adapun Masjid Jami’ Keraton Sumenep sendiri, dalam beberapa catatan sejarah disebutka, masjid itu dibangun oleh Panembahan Sumolo pada tahun 1200 Hijriah atau 1785 Masehi dan selesai pada 1206 Hijriah atau 1791 Masehi.

Sumolo adalah anak sekaligus pengganti Bindara Saot, yang dalam hitungan silsilah masih keponakan dari Nyai Talaga alias Nyai Hamilah.

Untuk diketahui, hingga saat ini bangunan rumah Nyai Talaga di Kecamatan Ganding terlihat masih sekitar sembilan puluh persen masih original. Salah satunya ranjang tidur yang juga terbuat dari kayu (Lencak,Bahasa Madura) juga masih utut di dalam rumah kuna itu dengan ukuran sekitar 7 x 8 meter persegi.

“Hanya bagian lantai teras saja yang dibuat lebih rendah, dan sedikit tambahan atap teras depan,” pungkas Kiai Junaidi bin Kiai Syukri. [Ferry Arbania]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *