Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf Lahir Bathin
Scroll untuk baca artikel
Bhujuk

Sultan Sumenep dan Makam Raden Saleh di Asta Tinggi, Kenapa Tidak Terkenal?

Avatar photo
165
×

Sultan Sumenep dan Makam Raden Saleh di Asta Tinggi, Kenapa Tidak Terkenal?

Sebarkan artikel ini

DhalemTemor.com- Raden Adipati Pringgoloyo dalam beberapa sumber disebut-sebut sebagai Putra Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo ke-V, mertua dari Sultan Sumenep itu ternyata makamnya di Asta Tinggi Sumenep.

Kono nama Kangjeng Kai sengaja “dihilangkan” dalam catatan silsilah Semarang hingga berapa puluh tahun lamanya. Konon, kata “Pemberontak” pada Kangjeng Terboyo itu dianggap “aib” keluarga.

Hal itu yang juga terjadi pada pribadi Pangeran Diponegoro, yang selama beberapa generasi “hilang” di kakancingan silsilah Keraton Jogjakarta.

Sebagai literasi sejarah, berikut kami suguhkan hasil reportase Jurnalis Farhan dan tim liputan News Room yang tayang pada Selasa, 6 Februari 2018 | 08:17 WIB.

Mengenal Adipati Pringgoloyo, Pemberontak Anak Pemberontak Dari Semarang
Media Center: Nama Raden Adipati Pringgoloyo dalam sejarah di Sumenep tidak begitu dikenal. Di kawasan Asta Tinggi, yang tiap hari dan di hari-hari tertentu dibanjiri peziarah, makam Pringgoloyo bahkan tak masuk sasaran tembak utama.

Posisi makam yang berada di luar kawasan utama Asta Tinggi memang acapkali hanya menjadi lalu-lalang peziarah maupun pengguna jalan di kawasan keramat itu. Lalu siapakah Pringgoloyo ini, sehingga lantas perlu dikenal?

Nama kecilnya ialah Raden Saleh. Ia merupakan salah satu anak laki-laki dari pembesar tanah Jawa yang berkedudukan di Semarang. Ayahnya ialah Kepala Bupati. Istilah kolonialnya ialah Hoofd Regent. Zainalfattah, Sejarahwan legendaris Madura mendefinisikan istilah ini sebagai bupati Wadhono. Yakni, adipati yang membawahi beberapa bupati. Wilayah pusat tersebut dikenal dengan kadipaten Wadhono.

Ayah Raden Saleh ini ialah Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo ke-V. Mr. Hamid Algadri dalam bukunya, Islam dan Keturunan Arab Dalam Pemberontakan Melawan Belanda, menuliskan Kangjeng Adipati ini sebagai sosok radikal di Jawa.

Sang Adipati juga ditulisnya sebagai tokoh cendekia yang menguasai beberapa disiplin ilmu, baik politik, budaya, dan seni perang. Konon, Pangeran Diponegoro yang masih memiliki hubungan darah dengan sang Adipati, menjadikannya sebagai konsultan dalam perang Jawa.

Hamid Algadri menyebut Suroadimenggolo V ini dengan Kangjeng Terboyo, karena berkedudukan di Terbaya. Dalam History of Java, Raffles memujinya dan menyebut Sang Adipati sebagai salah satu sumber karyanya.

Hanya saja, nasib sang Adipati hampir dipastikan tragis. Sekitar tahun 1822, dalam buku “Dua Raden Saleh Dua Nasionalis Dalam Abad 19”, Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V diturunkan dari kedudukannya sebagai “Rato” Semarang. Disusul dua tahun berikutnya, sang putra, Raden Saleh yang juga dicopot dari posisinya sebagai bupati Lasem.

“Kangjeng Kai, begitu, keluarga besar Keraton Sumenep menyebut beliau. Karena beliau juga sekaligus Kai atau ayah mertua Sultan Sumenep,” kata R. B. Muhlis, salah satu pemerhati sejarah Sumenep pada Media Center.

Tak hanya diturunkan sebagai Adipati, Kangjeng Kai ini juga lantas ditawan bersama sang anak. Keduanya “didakwa” sebagai tokoh di balik perang Jawa. Di tawan di atas kapal perang Pollux, dibawa ke Surabaya, sebelum setelah itu diinternir ke Ambon. “Baru atas upaya Raden Saleh, dan bantuan Sultan Sumenep, keduanya dilepaskan dan mendapat suaka dari kKeraton Sumenep. Kangjeng Kai dan Raden Saleh dibebaskan pada 1829. Setahun setelah beliau berdua tiba di Sumenep,” kata Gus Muhlis.

Di Sumenep, tidak banyak dijelaskan bagaimana kiprah Kangjeng Kai. Hanya menurut riwayat, beliau sangat benci Belanda dan memilih hidup di luar Keraton. Sementara Raden Saleh, mengingat tingginya tingkat intelektualitasnya, diangkat oleh Sultan Sumenep sebagai Patih Dalem atau wakil raja.
“Di Semarang jabatan Hoofd Regent diturunkan pada salah satu putra Kangjeng Kai, yaitu Raden Krisno yang juga bergelar sama,” jelas Muhlis.

Menurut Hamid Algadri, nama Kangjeng Kai sengaja dihilangkan dalam catatan silsilah Semarang hingga berapa puluh tahun lamanya. Konon, kata “Pemberontak” pada Kangjeng Terboyo itu dianggap “aib” keluarga. Hal itu yang juga terjadi pada pribadi Pangeran Diponegoro, yang selama beberapa generasi “hilang” di kakancingan silsilah Keraton Jogjakarta.

“Dulu, tokoh keraton yang sekarang dikenal sebagai pahlawan itu nama lainnya adalah pemberontak. Di Sumenep ini contohnya Kangjeng Kai dan putranya, Pringgoloyo,” tutup Muhlis. ( M Farhan M, Esha )

Editor: Ferry Arbania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *