Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf Lahir Bathin
Scroll untuk baca artikel
Bhujuk

Sosok Sayyid Syaikh, Guru Dan Sahabat Sultan Sumenep

Avatar photo
51
×

Sosok Sayyid Syaikh, Guru Dan Sahabat Sultan Sumenep

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa

DhalemTemor.com- Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat dikenal sebagai penguasa wilayah yang alim di bidang agama, bahasa, dan budaya. Kealimannya sudah tampak sejak masih kecil. Bahkan, sebelum baligh, beliau sudah biasa terlibat dalam majelis ulama di masanya.

Menurut riwayat, kuna Keraton Sumenep, Abdurrahman kecil memang gemar mencari ilmu. Beliau juga tidak seperti pangeran pada umumnya yang suka menghabiskan waktu di istana dengan segala kemewahannya. Sebaliknya, sang pangeran muda dahulu suka pada laku tirakat dan kental dengan tarekat, bahkan mengantongi talqin empat aliran thariqah (tarekat) mu’tabaroh sekaligus.

Karena selalu haus ilmu, Sultan Abdurrahman selalu mencari guru. Salah satu gurunya ialah Wali besar di masanya, Sayyid Syaikh Bafaqih. Sayyid ini ialah mursyid fath Sultan. Selain guru, keduanya juga bersahabat. Bahkan sangat akrab. Keduanya saling memuliakan, bahkan konon sang guru mengakui jika dalam hal kewalian, Sultan melebihi dirinya. Wa Allahu a’lam.

“Sayyid Syaikh ini menetap dan wafat di Botoputih Surabaya. Sehingga dikenal dengan sebutan Sayyid Botoputih atau Habib Botoputih. Namun meski begitu beliau selalu berkunjung ke Sumenep,” kata RB. Muhlis, salah satu keturunan Sultan Sumenep sekaligus pemerhati sejarah di bumi Jokotole ini, pada Media Center.

Ada kisah yang diriwayatkan secara masyhur di Sumenep. Dulu, tepat pada wafatnya Sultan, Sayyid Syaikh ta’ziah. Saat itulah diperlihatkan karomah keduanya. Sayyid Syaikh di bibir lubang makam Sultan berdiri sambil mengangkat sebuah batu besar.

Beliau lantas berseru, “Jasad Sultan sudah tak ada di kuburnya. Tapi sudah diangkat ke ‘illiyyin. Kalau tak percaya lihat ini,” sambil bersamaan menghujamkan batu besar yang dipegangnya ke jasad Sultan yang dibungkus kafan.

Dan benar saja. Kain itu amblas. Tanda tak ada jasad di dalamnya. Ketika itu Sayyid Syaikh berkata, “Seandainya Sultan ini tidak berat dengan pangkat keduniawiannya sebagai raja, niscaya keluarganya tidak bisa menyentuh jasadnya”.

Sebelum peristiwa itu, ada riwayat turun-temurun juga. Salah satu anak laki-laki Sultan yang masih kecil, Pangeran Suryoamijoyo atau Pangeran Ami, bermain-main di bawah ranjang jenazah ayahnya. Saat itu Sayyid Syaikh masuk ke kamar tersebut. Jasad Sultan tiba-tiba bangkit lagi, dan berdialog dengan Sayyid. Sontak, Pangeran Ami kaget melihatnya, lalu berlari keluar sambil berteriak, “Ka.. ka.. kaaiii, hidup lagi..”.

Riwayat yang diceritakan oleh RB. Fahrurrazi ini terjadi pada saat Sultan baru saja wafat. “Konon, pangeran Ami sejak kejadian itu kalau bicara tidak lancar atau tidak fasih. Kata orang Sumenepnya, kakka’,” kata Fahrurrazi.

Pasca wafatnya Sultan, Sayyid Syaikh diceritakan masih tetap sering berkunjung ke Sumenep. Beliau juga disebut dekat dengan putra sekaligus pengganti Sultan Abdurrahman, Panembahan Muhammad Saleh Notokusumo. [M Farhan/kab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *